“Beberapa rahasia tidak dimaksudkan untuk diucapkan,  melainkan untuk dituliskan pada angin yang berhembus dari arah Khyber.”   DASTAAN:...

DASTAAN : Bisikan dari Khyber

/
0 Comments

Visual Estetik Prolog Goshah-e-Ehsas - Pembuka Narasi Seni


“Beberapa rahasia tidak dimaksudkan untuk diucapkan, melainkan untuk dituliskan pada angin yang berhembus dari arah Khyber.”


 


DASTAAN: Bisikan dari Khyber

(Rahasia yang terkunci di balik angin Pakistan)


Malam telah mencapai puncaknya. Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, saat kesunyian terasa begitu pekat hingga mampu memekakkan telinga.

Ruheen Ishrat duduk mematung di kursi kayu kesayangannya. Di hadapannya, sebuah buku harian berwarna merah jambu tergeletak diam, memantulkan cahaya lampu meja yang temaram. Jemari Ruheen yang ramping bergerak ragu, hampir tidak menyentuh, sebelum akhirnya mendarat di atas sampul buku itu. Ia mengusap permukaannya dengan gerakan melingkar yang lembut, seolah sedang menyapa seorang kawan lama yang membawa banyak luka.

Dengan gerakan yang penuh perasaan, ia menarik buku itu mendekat ke dadanya, memeluknya sejenak sambil memejamkan mata. Ia sedang mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk membuka kembali gembok memori yang sudah lama ia kunci rapat. Saat buku itu diletakkan kembali dan dibuka pada halaman pertama yang masih putih bersih, bunyi gesekan kertasnya memecah kesunyian malam.

Tangannya kemudian meraih pena emas di samping buku. Ia menggenggamnya erat, namun jemarinya bergetar kecil saat ujung pena itu nyaris menyentuh kertas.

Tepat pada saat itu, jendela di hadapannya terbuka oleh sentakan angin yang kuat. Embusan angin malam yang liar menyapu masuk, membawa hawa dingin yang menusuk tulang dan menerbangkan gorden tipis seperti tarian yang tak beraturan. Helaian rambut Ruheen yang terurai kencang tersapu angin, jatuh menutupi sebagian wajahnya.

Ia tidak melawan. Angin itu tidak hanya dingin; ia membawa aroma tanah yang basah dan desir pegunungan yang jauh—aroma dari Khyber Pakhtunkhwa yang ribuan kilometer jaraknya. Dengan gerakan yang sangat anggun, Ruheen mengangkat tangan, menyibak helaian rambut yang menutupi pandangannya, lalu menyelipkannya ke balik telinga. Ia membiarkan angin dari negeri seberang itu memenuhi paru-parunya.

Ia kembali menatap halaman kosong di hadapannya dengan pandangan yang kini sudah mantap.

"Biarlah rasa ini menjadi abadi dalam tulisan, meski ia harus terkunci di antara dua dunia," bisiknya dalam hati.

Ujung pena itu akhirnya menyentuh kertas. Dan di sana, ia mulai menuliskan satu nama yang menjadi awal dari segalanya: Khal.

— Ismy Ruheen



You may also like

Tidak ada komentar: