slider img
slider img
slider img

  Prolog EHSAS: Menjelma simfoni kehampaan yang dialiri warna-warna asing di palung kesunyian. EHSAS: Gema yang...

EHSAS : Gema yang Tak Pernah Benar-benar Pergi

 

Siluet transparan di tengah ruangan gelap dengan pendaran nebula warna-warni yang mengalir dari dada, melambangkan gema perasaan EHSAS dalam kesunyian malam.
Prolog EHSAS: Menjelma simfoni kehampaan yang dialiri warna-warna asing di palung kesunyian.

EHSAS: Gema yang Tak Pernah Benar-benar Pergi

(Simfoni rasa yang bergaung di kedalaman hening)


Di senyapnya malam, getaran halus menyentuh hening—membangunkanku. Sisa rasa yang mengendap di dada, kini bergaung lirih di palung telinga; menjelma simfoni kehampaan yang belum sempat kuberi nama.

Ada bayangan meluruh tanpa jejak, namun ia menitipkan kanvas purba—ruang kosong yang kini dialiri warna-warna asing. Warna yang merambat pelan, meresap ke dalam celah hasrat yang diam.

Dan dalam kesunyian ini, aku hanyalah pendengar setia bagi gema yang tak pernah benar-benar pergi.

"Sebab rasa adalah bahasa yang tak butuh diterjemahkan, ia cukup didengarkan dalam sunyi."

Ismy Ruheen

"Pagi yang berbeda; saat sebuah pesan singkat 'membaca' isi hati yang tersembunyi." BAB 2: TAMU DAR...

BAB 2: TAMU DARI NEGERI SEBERANG

Ruheen Ishrat melihat pesan ponsel di pagi hari dastaaan bisikan dari khyber "Pagi yang berbeda; saat sebuah pesan singkat 'membaca' isi hati yang tersembunyi."

BAB 2: TAMU DARI NEGERI SEBERANG

(Bagian 1: Kesunyian yang Berlagu - THE SILENT VOID)


Cahaya matahari pagi menyemburat, menembus celah jendela dan menyentuh tirai chiffon putih yang masih menyisakan hawa dingin sisa hujan semalam. Ruheen Ishrat masih terlelap, sampai sebuah silau yang tajam menusuk kelopak matanya.

Ia mengerang kecil, mengucek matanya, lalu tiba-tiba melongo kaget saat pandangannya fokus pada jam dinding di depannya.

"Hah! Jam berapa ini?!"

Angka menunjukkan 06.15 pagi. Tubuh Ruheen seolah terlempar dari tempat tidur. Ia berlari kecil menuju kamar mandi dengan langkah tergesa-gesa. "Aduh, kenapa bisa kesiangan..." gumamnya panik.

Tangannya meranggai sikat gigi dengan cepat, memencet sedikit pasta gigi, dan menggosok gigi dengan gerakan yang tak sabaran. Ia membasuh mukanya dengan air dingin yang segar, menyambar handuk di sebelah wastafel, lalu mengeringkan wajahnya sambil berjalan keluar. Tangannya dengan lihai menguncit rambutnya ke belakang agar tidak mengganggu aktivitasnya.

"Nisa... Sayang, bangun," bisik Ruheen lembut sambil mengguncang pelan tubuh putri pertamanya. "Ayo bangun, hari sudah siang. Nanti kamu terlambat ke sekolah."

Nisa terbangun dengan senyum pagi yang masih mengantuk, sementara Mahnur di sampingnya masih tertidur lelap. Setelah memastikan Nisa bergerak ke kamar mandi, Ruheen bergegas kembali ke kamarnya sendiri. Ia mendekati suaminya, menyentuh pundaknya dengan gerakan yang sedikit menggoyah.

"Ayah... sudah siang. Nanti terlambat."

Suaminya terbangun dengan wajah yang masih menyimpan letih sisa pekerjaan kemarin, namun segera bangkit menuju kamar mandi. Ruheen tidak membuang waktu; ia melesat ke dapur. Saat membuka pintu lemari es, ia mengembuskan napas lega. "Untung masih ada sisa ikan kemarin untuk sarapan," gumamnya.

Kedua tangannya dengan cekatan meranggai wadah makanan dari kulkas, membawanya ke kompor untuk dihangatkan. Di tengah kepulan uap masakan, Nisa datang dengan seragam rapinya.

"Ibu, aku sudah siap!"

"Oh, sayang... kamu cantik sekali. Ayo isi energi dulu supaya kamu kuat dan bisa berpikir panjang mengerjakan tugas-tugasmu," ujar Ruheen dengan senyum hangat sambil menata nasi di piring.

Suasana meja makan terasa singkat. Suaminya bergabung, makan dengan cepat dalam keheningan pagi yang sibuk. Ruheen sendiri tidak ikut duduk; tangannya sibuk mengemas bekal untuk Nisa. Tak lama kemudian, deru mesin kendaraan terdengar.

"Ibu, aku berangkat ya!"

Ruheen berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan dengan senyum cerianya yang paling tulus, mengantar keberangkatan suami dan putrinya sampai bayangan mereka hilang di tikungan jalan.

Seketika, rumah kembali hening. Mahnur belum bangun. Ruheen menghela napas, menyambar sapu, dan mulai melakukan rutinitas hariannya. Namun, saat sapunya bergerak lincah di lantai ruang tamu, sebuah suara lembut terdengar dari arah kamar.

Ding!

Sebuah notifikasi ponsel yang terdengar berbeda dari biasanya. Ruheen menghentikan gerakannya. Ia berjalan menuju meja tempat ponselnya tergeletak di samping buku harian pink-nya. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah komentar pada postingan puisinya semalam.

"Cahaya pagi yang bersinar cerah, membawa sisa udara dingin di malam hari. Jiwa yang tertidur lelap pun terbangun untuk menyambut mereka... Selamat pagi untuk jiwa yang penuh keindahan. Salam kenal dari negeri seberang (Khyber)."

Ruheen terpaku sejenak. Matanya menyusuri setiap kata itu. Ada rasa geli yang aneh di perutnya, sebuah senyuman kecil terukir secara spontan di bibirnya. Ia merasa... "terbaca". Pesan itu seolah mengerti suasana hatinya saat menulis puisi semalam.

Namun, ia segera menggelengkan kepala. Ruheen tidak membalas. Ia meletakkan kembali ponselnya dengan posisi telungkup, lalu kembali menyambar sapunya. Ia terus menyapu, tapi gerakannya kini sedikit lebih lambat. Memorinya terkunci pada satu kata di akhir pesan itu: Khyber.

"Siapa..." gumamnya penasaran pada udara kosong. Ia tersenyum lagi, menyadari bahwa paginya kali ini terasa sedikit berbeda.

Ismy Ruheen

  "Di balik jendela yang terbuka lebar, ada jiwa yang mulai tenang, meski dunia luar tengah gemetar." ...

BAB 1 : RUANG TANPA GEMA

Ilustrasi Cerita Bab 1: Ruang Tanpa Gema - Goshah-e-Ehsas

 

"Di balik jendela yang terbuka lebar, ada jiwa yang mulai tenang, meski dunia luar tengah gemetar."

(KESUNYIAN YANG BERLAGU - THE SILENT VOID)

BAB 1: RUANG TANPA GEMA


Sore itu, cahaya matahari musim kemarau menyelinap masuk melalui celah gorden, membasuh lantai ruang tamu dengan warna keemasan yang hangat.

Ruheen Ishrat duduk bersimpuh di atas karpet tipis. Dress putih berbahan chiffon yang ia kenakan jatuh menjuntai di lantai, kontras dengan kardigan hitam yang membalut bahunya—seolah melambangkan sisi gelap dan terang yang sedang bertarung di dalam dirinya. Di hadapannya, putri kecilnya yang berusia empat tahun duduk tenang, memunggungi ibunya sambil memegang sebuah boneka kain.

Jemari Ruheen yang ramping mulai bergerak. Dengan sangat lembut, ia menyisir helaian rambut hitam putrinya, membiarkan setiap helainya menyelinap di antara celah jarinya dengan penuh perasaan. Ia mengambil sebuah ikat rambut berwarna senada dengan gaun putrinya, lalu dengan gerakan memutar yang lihai—hasil dari latihan bertahun-tahun sebagai seorang ibu—ia menciptakan sebuah ikatan rambut yang cantik dan rapi.

"Nah, sekarang putri kecil Ibu sudah cantik sekali," bisik Ruheen sambil mengecup puncak kepala putrinya.

Ia memberikan senyum termanisnya, jenis senyum yang hanya ia simpan untuk kedua malaikat kecilnya. Baginya, wajah ceria kedua putrinya adalah satu-satunya cermin di mana ia ingin melihat dirinya sendiri; sebagai ibu yang sempurna, tanpa cacat, tanpa duka. Setelah putrinya berlari kecil menuju tumpukan mainan, Ruheen bangkit. Ia mulai merapikan majalah yang berserakan, menggeser letak vas bunga, dan menyeka debu imajiner di atas meja. Setiap gerakannya terlihat lincah dan bersemangat, sebuah pertunjukan rutinitas yang ia lakoni setiap hari di rumah baru mereka.

Pindah ke kota kelahiran suaminya berarti harus memulai segalanya dari nol—lingkungan baru, tetangga baru, dan udara yang terasa berbeda dari rumah besarnya yang dulu. Namun, di balik kelincahannya menata rumah, mata Ruheen seringkali tertuju pada sudut-sudut ruangan yang kosong. Rumah ini rapi. Rumah ini bersih. Tapi baginya, rumah ini adalah sebuah ruang tanpa gema. Setiap tawa yang ia keluarkan seolah langsung ditelan oleh dinding-dinding bisu, tidak ada hati yang membalas getarannya. Di tengah keriuhan tugas rumah tangga, Ruheen adalah seorang pengelana dalam imajinasinya sendiri, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa namanya.

Malam kian pekat. Di luar, awan hitam mulai berselimut mendung, menelan sisa-sisa cahaya bulan. Jarum jam di dinding berdetak malas hingga akhirnya bertemu di angka 21.00.

"Tidak terasa, cepat sekali..." gumam Ruheen pelan, matanya melirik sekilas ke arah jam.

Ia perlahan menutup buku cerita di tangannya setelah suara napas teratur Mahnur, putri kecilnya, terdengar lembut. Di samping Mahnur, sang kakak, Afzalunnisa, juga sudah terlelap. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati agar tak menimbulkan suara, Ruheen meraih ujung selimut di kaki mereka, lalu menariknya perlahan hingga menutupi bahu kedua malaikatnya. Ia mengecup kening mereka sejenak, sebuah ritual kasih sayang yang sunyi.

Ruheen keluar kamar, melintasi lorong dengan langkah tanpa suara. Ia mengintip ke kamar sebelah—suaminya sudah tertidur pulas. Wajah lelaki itu menyiratkan keletihan yang luar biasa setelah seharian bekerja. Ruheen tidak masuk, ia hanya menatap sekilas sebelum melanjutkan langkah ke dapur untuk memastikan semuanya telah bersih dan rapi.

"Dingin sekali malam ini," gumamnya lagi.

Langkahnya membawanya ke ruang tamu. Sebelum mengunci pintu depan, Ruheen memutar gerendel dan membukanya sedikit. Seketika, angin malam yang kencang menerjang masuk, menyapu rambut hitamnya yang terurai hingga menutupi wajah. Ruheen berdiri mematung di ambang pintu. Jemari rapinya bergerak perlahan menyibak helaian rambut yang menutupi pandangannya, lalu menyelipkannya ke balik telinga dengan gerakan yang anggun.

"Sepertinya akan turun hujan," bisiknya pada kegelapan di luar sana.

Ia menutup pintu, menguncinya, lalu kembali ke kamarnya. Di sana, ia baru menyadari bahwa jendela kamar masih terbuka lebar. Tirai chiffon putih di sana terbang melambai, menari indah mengikuti melodi udara dingin yang masuk ke ruangan. Ruheen berjalan mendekat, membiarkan kain tipis itu membelai tubuhnya saat ia berdiri di depan jendela. Hujan mulai turun. Rintik-rintik air yang jatuh membasahi bumi menciptakan aroma tanah yang menenangkan.

Ruheen menutup mata, merasakan udara dingin dan mendengarkan rintikan hujan yang jatuh membasahi bumi. Di bawah temaram lampu kamar, ia mulai menggoreskan pena, memindahkan getaran jiwanya ke atas kertas merah jambu itu. Inilah kidung yang ia tuliskan malam itu:

LANGIT YANG BEGITU PEKAT

Langit malam ini begitu pekat,
Berselimut mendung yang memeluk erat.
Rintik hujan mulai jatuh, membasahi bumi yang dahaga,
Membawa pesan dingin yang merasuk hingga ke sukma.

Angin ini... ia membawa desir yang tak biasa,
Menyapu wajah, menyentuh rindu yang tak punya sapa.
Hujan, sampaikan pada sunyi yang kusembunyikan,
Bahwa ada rasa yang sedang hangat dalam kedinginan.

Biarlah malam menelan suaraku yang parau,
Di antara gemericik air dan hati yang tak lagi risau.
Karena di balik jendela yang terbuka lebar,
Ada jiwa yang mulai tenang, meski dunia luar tengah gemetar.

Ruheen menatap bait-bait itu sekali lagi. Jemari lentiknya kemudian menari di atas layar digital ponselnya, menyalin setiap kata dengan penuh penghayatan. Ia tidak mencari pujian, ia hanya ingin "melepaskan".

Klik.

Postingan itu terkirim. Ruheen menghela napas lega, merasakan beban di dadanya meluruh bersama jatuhnya air hujan di luar sana. Ia beranjak ke kasur, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dan tertidur dengan senyum tipis yang masih tertinggal di sudut bibirnya.

— Ismy Ruheen

“Beberapa rahasia tidak dimaksudkan untuk diucapkan,  melainkan untuk dituliskan pada angin yang berhembus dari arah Khyber.”   DASTAAN:...

DASTAAN : Bisikan dari Khyber

Visual Estetik Prolog Goshah-e-Ehsas - Pembuka Narasi Seni


“Beberapa rahasia tidak dimaksudkan untuk diucapkan, melainkan untuk dituliskan pada angin yang berhembus dari arah Khyber.”


 


DASTAAN: Bisikan dari Khyber

(Rahasia yang terkunci di balik angin Pakistan)


Malam telah mencapai puncaknya. Jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, saat kesunyian terasa begitu pekat hingga mampu memekakkan telinga.

Ruheen Ishrat duduk mematung di kursi kayu kesayangannya. Di hadapannya, sebuah buku harian berwarna merah jambu tergeletak diam, memantulkan cahaya lampu meja yang temaram. Jemari Ruheen yang ramping bergerak ragu, hampir tidak menyentuh, sebelum akhirnya mendarat di atas sampul buku itu. Ia mengusap permukaannya dengan gerakan melingkar yang lembut, seolah sedang menyapa seorang kawan lama yang membawa banyak luka.

Dengan gerakan yang penuh perasaan, ia menarik buku itu mendekat ke dadanya, memeluknya sejenak sambil memejamkan mata. Ia sedang mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk membuka kembali gembok memori yang sudah lama ia kunci rapat. Saat buku itu diletakkan kembali dan dibuka pada halaman pertama yang masih putih bersih, bunyi gesekan kertasnya memecah kesunyian malam.

Tangannya kemudian meraih pena emas di samping buku. Ia menggenggamnya erat, namun jemarinya bergetar kecil saat ujung pena itu nyaris menyentuh kertas.

Tepat pada saat itu, jendela di hadapannya terbuka oleh sentakan angin yang kuat. Embusan angin malam yang liar menyapu masuk, membawa hawa dingin yang menusuk tulang dan menerbangkan gorden tipis seperti tarian yang tak beraturan. Helaian rambut Ruheen yang terurai kencang tersapu angin, jatuh menutupi sebagian wajahnya.

Ia tidak melawan. Angin itu tidak hanya dingin; ia membawa aroma tanah yang basah dan desir pegunungan yang jauh—aroma dari Khyber Pakhtunkhwa yang ribuan kilometer jaraknya. Dengan gerakan yang sangat anggun, Ruheen mengangkat tangan, menyibak helaian rambut yang menutupi pandangannya, lalu menyelipkannya ke balik telinga. Ia membiarkan angin dari negeri seberang itu memenuhi paru-parunya.

Ia kembali menatap halaman kosong di hadapannya dengan pandangan yang kini sudah mantap.

"Biarlah rasa ini menjadi abadi dalam tulisan, meski ia harus terkunci di antara dua dunia," bisiknya dalam hati.

Ujung pena itu akhirnya menyentuh kertas. Dan di sana, ia mulai menuliskan satu nama yang menjadi awal dari segalanya: Khal.

— Ismy Ruheen