"Di balik jendela yang terbuka lebar, ada jiwa yang mulai tenang, meski dunia luar tengah gemetar." ...

BAB 1 : RUANG TANPA GEMA

/
0 Comments

Ilustrasi Cerita Bab 1: Ruang Tanpa Gema - Goshah-e-Ehsas

 

"Di balik jendela yang terbuka lebar, ada jiwa yang mulai tenang, meski dunia luar tengah gemetar."

(KESUNYIAN YANG BERLAGU - THE SILENT VOID)

BAB 1: RUANG TANPA GEMA


Sore itu, cahaya matahari musim kemarau menyelinap masuk melalui celah gorden, membasuh lantai ruang tamu dengan warna keemasan yang hangat.

Ruheen Ishrat duduk bersimpuh di atas karpet tipis. Dress putih berbahan chiffon yang ia kenakan jatuh menjuntai di lantai, kontras dengan kardigan hitam yang membalut bahunya—seolah melambangkan sisi gelap dan terang yang sedang bertarung di dalam dirinya. Di hadapannya, putri kecilnya yang berusia empat tahun duduk tenang, memunggungi ibunya sambil memegang sebuah boneka kain.

Jemari Ruheen yang ramping mulai bergerak. Dengan sangat lembut, ia menyisir helaian rambut hitam putrinya, membiarkan setiap helainya menyelinap di antara celah jarinya dengan penuh perasaan. Ia mengambil sebuah ikat rambut berwarna senada dengan gaun putrinya, lalu dengan gerakan memutar yang lihai—hasil dari latihan bertahun-tahun sebagai seorang ibu—ia menciptakan sebuah ikatan rambut yang cantik dan rapi.

"Nah, sekarang putri kecil Ibu sudah cantik sekali," bisik Ruheen sambil mengecup puncak kepala putrinya.

Ia memberikan senyum termanisnya, jenis senyum yang hanya ia simpan untuk kedua malaikat kecilnya. Baginya, wajah ceria kedua putrinya adalah satu-satunya cermin di mana ia ingin melihat dirinya sendiri; sebagai ibu yang sempurna, tanpa cacat, tanpa duka. Setelah putrinya berlari kecil menuju tumpukan mainan, Ruheen bangkit. Ia mulai merapikan majalah yang berserakan, menggeser letak vas bunga, dan menyeka debu imajiner di atas meja. Setiap gerakannya terlihat lincah dan bersemangat, sebuah pertunjukan rutinitas yang ia lakoni setiap hari di rumah baru mereka.

Pindah ke kota kelahiran suaminya berarti harus memulai segalanya dari nol—lingkungan baru, tetangga baru, dan udara yang terasa berbeda dari rumah besarnya yang dulu. Namun, di balik kelincahannya menata rumah, mata Ruheen seringkali tertuju pada sudut-sudut ruangan yang kosong. Rumah ini rapi. Rumah ini bersih. Tapi baginya, rumah ini adalah sebuah ruang tanpa gema. Setiap tawa yang ia keluarkan seolah langsung ditelan oleh dinding-dinding bisu, tidak ada hati yang membalas getarannya. Di tengah keriuhan tugas rumah tangga, Ruheen adalah seorang pengelana dalam imajinasinya sendiri, mencari sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa namanya.

Malam kian pekat. Di luar, awan hitam mulai berselimut mendung, menelan sisa-sisa cahaya bulan. Jarum jam di dinding berdetak malas hingga akhirnya bertemu di angka 21.00.

"Tidak terasa, cepat sekali..." gumam Ruheen pelan, matanya melirik sekilas ke arah jam.

Ia perlahan menutup buku cerita di tangannya setelah suara napas teratur Mahnur, putri kecilnya, terdengar lembut. Di samping Mahnur, sang kakak, Afzalunnisa, juga sudah terlelap. Dengan gerakan yang sangat berhati-hati agar tak menimbulkan suara, Ruheen meraih ujung selimut di kaki mereka, lalu menariknya perlahan hingga menutupi bahu kedua malaikatnya. Ia mengecup kening mereka sejenak, sebuah ritual kasih sayang yang sunyi.

Ruheen keluar kamar, melintasi lorong dengan langkah tanpa suara. Ia mengintip ke kamar sebelah—suaminya sudah tertidur pulas. Wajah lelaki itu menyiratkan keletihan yang luar biasa setelah seharian bekerja. Ruheen tidak masuk, ia hanya menatap sekilas sebelum melanjutkan langkah ke dapur untuk memastikan semuanya telah bersih dan rapi.

"Dingin sekali malam ini," gumamnya lagi.

Langkahnya membawanya ke ruang tamu. Sebelum mengunci pintu depan, Ruheen memutar gerendel dan membukanya sedikit. Seketika, angin malam yang kencang menerjang masuk, menyapu rambut hitamnya yang terurai hingga menutupi wajah. Ruheen berdiri mematung di ambang pintu. Jemari rapinya bergerak perlahan menyibak helaian rambut yang menutupi pandangannya, lalu menyelipkannya ke balik telinga dengan gerakan yang anggun.

"Sepertinya akan turun hujan," bisiknya pada kegelapan di luar sana.

Ia menutup pintu, menguncinya, lalu kembali ke kamarnya. Di sana, ia baru menyadari bahwa jendela kamar masih terbuka lebar. Tirai chiffon putih di sana terbang melambai, menari indah mengikuti melodi udara dingin yang masuk ke ruangan. Ruheen berjalan mendekat, membiarkan kain tipis itu membelai tubuhnya saat ia berdiri di depan jendela. Hujan mulai turun. Rintik-rintik air yang jatuh membasahi bumi menciptakan aroma tanah yang menenangkan.

Ruheen menutup mata, merasakan udara dingin dan mendengarkan rintikan hujan yang jatuh membasahi bumi. Di bawah temaram lampu kamar, ia mulai menggoreskan pena, memindahkan getaran jiwanya ke atas kertas merah jambu itu. Inilah kidung yang ia tuliskan malam itu:

LANGIT YANG BEGITU PEKAT

Langit malam ini begitu pekat,
Berselimut mendung yang memeluk erat.
Rintik hujan mulai jatuh, membasahi bumi yang dahaga,
Membawa pesan dingin yang merasuk hingga ke sukma.

Angin ini... ia membawa desir yang tak biasa,
Menyapu wajah, menyentuh rindu yang tak punya sapa.
Hujan, sampaikan pada sunyi yang kusembunyikan,
Bahwa ada rasa yang sedang hangat dalam kedinginan.

Biarlah malam menelan suaraku yang parau,
Di antara gemericik air dan hati yang tak lagi risau.
Karena di balik jendela yang terbuka lebar,
Ada jiwa yang mulai tenang, meski dunia luar tengah gemetar.

Ruheen menatap bait-bait itu sekali lagi. Jemari lentiknya kemudian menari di atas layar digital ponselnya, menyalin setiap kata dengan penuh penghayatan. Ia tidak mencari pujian, ia hanya ingin "melepaskan".

Klik.

Postingan itu terkirim. Ruheen menghela napas lega, merasakan beban di dadanya meluruh bersama jatuhnya air hujan di luar sana. Ia beranjak ke kasur, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, dan tertidur dengan senyum tipis yang masih tertinggal di sudut bibirnya.

— Ismy Ruheen



You may also like

Tidak ada komentar: