"Pagi yang berbeda; saat sebuah pesan singkat 'membaca' isi hati yang tersembunyi." BAB 2: TAMU DAR...

BAB 2: TAMU DARI NEGERI SEBERANG

/
0 Comments

Ruheen Ishrat melihat pesan ponsel di pagi hari dastaaan bisikan dari khyber "Pagi yang berbeda; saat sebuah pesan singkat 'membaca' isi hati yang tersembunyi."

BAB 2: TAMU DARI NEGERI SEBERANG

(Bagian 1: Kesunyian yang Berlagu - THE SILENT VOID)


Cahaya matahari pagi menyemburat, menembus celah jendela dan menyentuh tirai chiffon putih yang masih menyisakan hawa dingin sisa hujan semalam. Ruheen Ishrat masih terlelap, sampai sebuah silau yang tajam menusuk kelopak matanya.

Ia mengerang kecil, mengucek matanya, lalu tiba-tiba melongo kaget saat pandangannya fokus pada jam dinding di depannya.

"Hah! Jam berapa ini?!"

Angka menunjukkan 06.15 pagi. Tubuh Ruheen seolah terlempar dari tempat tidur. Ia berlari kecil menuju kamar mandi dengan langkah tergesa-gesa. "Aduh, kenapa bisa kesiangan..." gumamnya panik.

Tangannya meranggai sikat gigi dengan cepat, memencet sedikit pasta gigi, dan menggosok gigi dengan gerakan yang tak sabaran. Ia membasuh mukanya dengan air dingin yang segar, menyambar handuk di sebelah wastafel, lalu mengeringkan wajahnya sambil berjalan keluar. Tangannya dengan lihai menguncit rambutnya ke belakang agar tidak mengganggu aktivitasnya.

"Nisa... Sayang, bangun," bisik Ruheen lembut sambil mengguncang pelan tubuh putri pertamanya. "Ayo bangun, hari sudah siang. Nanti kamu terlambat ke sekolah."

Nisa terbangun dengan senyum pagi yang masih mengantuk, sementara Mahnur di sampingnya masih tertidur lelap. Setelah memastikan Nisa bergerak ke kamar mandi, Ruheen bergegas kembali ke kamarnya sendiri. Ia mendekati suaminya, menyentuh pundaknya dengan gerakan yang sedikit menggoyah.

"Ayah... sudah siang. Nanti terlambat."

Suaminya terbangun dengan wajah yang masih menyimpan letih sisa pekerjaan kemarin, namun segera bangkit menuju kamar mandi. Ruheen tidak membuang waktu; ia melesat ke dapur. Saat membuka pintu lemari es, ia mengembuskan napas lega. "Untung masih ada sisa ikan kemarin untuk sarapan," gumamnya.

Kedua tangannya dengan cekatan meranggai wadah makanan dari kulkas, membawanya ke kompor untuk dihangatkan. Di tengah kepulan uap masakan, Nisa datang dengan seragam rapinya.

"Ibu, aku sudah siap!"

"Oh, sayang... kamu cantik sekali. Ayo isi energi dulu supaya kamu kuat dan bisa berpikir panjang mengerjakan tugas-tugasmu," ujar Ruheen dengan senyum hangat sambil menata nasi di piring.

Suasana meja makan terasa singkat. Suaminya bergabung, makan dengan cepat dalam keheningan pagi yang sibuk. Ruheen sendiri tidak ikut duduk; tangannya sibuk mengemas bekal untuk Nisa. Tak lama kemudian, deru mesin kendaraan terdengar.

"Ibu, aku berangkat ya!"

Ruheen berdiri di ambang pintu, melambaikan tangan dengan senyum cerianya yang paling tulus, mengantar keberangkatan suami dan putrinya sampai bayangan mereka hilang di tikungan jalan.

Seketika, rumah kembali hening. Mahnur belum bangun. Ruheen menghela napas, menyambar sapu, dan mulai melakukan rutinitas hariannya. Namun, saat sapunya bergerak lincah di lantai ruang tamu, sebuah suara lembut terdengar dari arah kamar.

Ding!

Sebuah notifikasi ponsel yang terdengar berbeda dari biasanya. Ruheen menghentikan gerakannya. Ia berjalan menuju meja tempat ponselnya tergeletak di samping buku harian pink-nya. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah komentar pada postingan puisinya semalam.

"Cahaya pagi yang bersinar cerah, membawa sisa udara dingin di malam hari. Jiwa yang tertidur lelap pun terbangun untuk menyambut mereka... Selamat pagi untuk jiwa yang penuh keindahan. Salam kenal dari negeri seberang (Khyber)."

Ruheen terpaku sejenak. Matanya menyusuri setiap kata itu. Ada rasa geli yang aneh di perutnya, sebuah senyuman kecil terukir secara spontan di bibirnya. Ia merasa... "terbaca". Pesan itu seolah mengerti suasana hatinya saat menulis puisi semalam.

Namun, ia segera menggelengkan kepala. Ruheen tidak membalas. Ia meletakkan kembali ponselnya dengan posisi telungkup, lalu kembali menyambar sapunya. Ia terus menyapu, tapi gerakannya kini sedikit lebih lambat. Memorinya terkunci pada satu kata di akhir pesan itu: Khyber.

"Siapa..." gumamnya penasaran pada udara kosong. Ia tersenyum lagi, menyadari bahwa paginya kali ini terasa sedikit berbeda.

Ismy Ruheen



You may also like

Tidak ada komentar: