PROLOG: RAHASIA YANG DITITIPKAN PADA ANGIN

Prolog novel DASTAAN: Bisikan dari Khyber oleh Ismy Ruheen. Rahasia kuno Pakistan yang hanyut bersama angin dan takdir yang mempertemukan ruang rasa.

 


Siluet Ruheen Ishrat dan suaminya berteduh dari hujan lebat Jawa Timur, menatap sosok pria misterius berpakaian Pakistan di seberang kedai teh dalam prolog novel DASTAAN.

Di antara deru hujan Jawa Timur dan kilatan lampu kedai teh, sebuah rahasia dari negeri yang jauh mendadak memanggilnya pulang...

BAGIAN I: SUNYI YANG TAK PERNAH BERSUARA
(PART I: The Silence That Never Spoke)

PROLOG: RAHASIA YANG DITITIPKAN PADA ANGIN

✦ ✦ ✦

Langit di atas Jawa Timur sore itu tidak sekadar mendung; ia telah berubah menjadi jelaga yang pekat. Lalu, tanpa peringatan, awan pecah. Hujan turun seperti ribuan anak panah perak yang menghantam bumi dengan kemarahan yang indah.

Ruheen Ishrat dan suaminya berlari kencang menerobos tirai air yang membutakan. Motor mereka tinggalkan begitu saja di bawah pohon besar, menyerah pada amukan badai. Mereka berhasil mencapai sebuah bangunan tua—bekas warung kopi yang ringkih dengan atap seng yang mengerang tertimpa air.

Ruheen berdiri kaku, napasnya memburu. Gaun chiffon putih yang ia kenakan kini terasa berat, memeluk tubuhnya dengan dingin, sementara kardigan hitam yang ia pakai tak lagi mampu menghalau gigil. Suaminya melangkah satu tindak ke belakangnya, memposisikan bahunya yang lebar untuk memecah angin agar tak langsung menghantam istrinya. Sebuah perlindungan yang jujur, sebuah tameng yang kokoh, namun di sana—di tengah deru hujan—Ruheen justru merasa sedang ditarik oleh gravitasi lain.

Angin menderu, mempermainkan helaian rambut Ruheen yang tergerai hingga membasahi pipi dan lehernya. Namun, indranya tidak tertuju pada dingin. Tatapannya terkunci lurus ke depan, menembus kabut hujan, tertuju pada sebuah kedai teh di seberang jalan. Di sana, sebuah lampu hias gantung berkedip-kedip ritmis.

Klik. Klik. Klik.

Setiap kedipan cahaya itu seolah membelah tirai hujan. Dan di sanalah ia muncul.

Di antara rintik air yang menderu, Ruheen melihat siluet pria itu. Tinggi, dengan tatapan yang dalam dan teduh yang selama ini hanya ia temui di balik layar kaca. Bayangan itu tidak berdiri di atas aspal basah, melainkan seolah melayang di atas embusan angin yang tiba-tiba berubah rasa. Angin itu tidak lagi lembap, melainkan kering dan membawa aroma pinus serta debu pegunungan yang jauh.

"Khyber..." bisik nuraninya.

Dada Ruheen berdegup kencang, sebuah debaran yang jauh lebih keras daripada suara guntur yang baru saja menggelegar. Ia merasakan tarikan magnetis yang luar biasa, seolah angin Pakistan itu sedang merengkuh tubuhnya, membisikkan rahasia-rahasia yang selama ini terkunci rapat. Dunia di sekitarnya menghilang. Suara hujan di telinganya perlahan bergeser menjadi melodi rabab yang menyayat hati.

"Ruheen? Ayo, hujannya sudah agak reda."

Sentuhan tangan suaminya di lengan bawah Ruheen terasa seperti sengatan listrik yang menariknya kembali ke realitas. Bayangan itu memudar, tersapu oleh sapuan angin hujan yang kembali murni. Ruheen mengerjap, jantungnya masih tertinggal di seberang jalan.

Ruheen menarik napas panjang, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menyibak helaian rambutnya yang basah ke belakang telinga. Namun, saat ia menatap telapak tangannya, ia membeku.

Di telapak tangannya yang basah oleh air hujan Jawa Timur, terselip selembar duri pohon pinus yang kering—sebuah aroma pegunungan Khyber yang mustahil ada di sana.

Dia tidak sedang berhalusinasi. Rahasia itu telah menemukan jalannya pulang.

✦ ✦ ✦

Nook of Feeling, Room of Art

Penulis Goshah-e-Ehsas