EHSAS | Gema yang Tak Pernah Benar-benar Pergi

Puisi EHSAS dari koleksi Tanhai Ki Goonj. Sebuah gema rasa yang lahir dari kesunyian, menetap dalam ingatan, dan tak pernah benar-benar pergi.

 


​Seorang wanita gaun putih duduk termenung di kasur saat malam hari dengan kabut nebula warna-warni keluar dari dadanya di bawah sinar bulan, ilustrasi puisi EHSAS Ismy Ruheen.

"Menjelma simfoni kehampaan yang dialiri warna-warna asing di palung kesunyian."

EHSAS

Gema yang Tak Pernah Benar-benar Pergi
(Simfoni rasa yang bergaung di kedalaman hening)
❖ ❖ ❖

Di senyapnya malam, getaran halus menyentuh hening—membangunkanku.
Sisa rasa yang mengendap di dada, kini bergaung lirih di palung telinga;
menjelma simfoni kehampaan yang belum sempat kuberi nama.

Ada bayangan meluruh tanpa jejak, namun ia menitipkan kanvas purba—
ruang kosong yang kini dialiri warna-warna asing.
Warna yang merambat pelan, meresap ke dalam celah hasrat yang diam.

Dan dalam kesunyian ini,
aku hanyalah pendengar setia bagi gema yang tak pernah benar-benar pergi.

"Sebab rasa adalah bahasa yang tak butuh diterjemahkan, ia cukup didengarkan dalam sunyi."

— Ismy Ruheen

Nook of Feeling, Room of Art

Penulis Goshah-e-Ehsas