Nyala di Ujung Malam
"Sebab cahaya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu di balik malam, hingga hati siap melihatnya kembali."
EHSAS
Di ujung malam yang paling sunyi,
aku pernah berdiri bersama keraguan.
Menatap langit yang tak menjawab,
dan jalan-jalan yang kehilangan arah.
Hari-hari berjalan tanpa suara,
membawa lelah yang tak selalu terlihat.
Sementara mimpi-mimpi yang kusimpan
perlahan menjauh seperti kabut di kejauhan.
Aku bertanya kepada waktu,
mengapa sebagian doa begitu lama tiba.
Mengapa hati harus mengenal kehilangan,
sebelum belajar menghargai cahaya.
Namun di antara retakan yang kutemui,
ada sesuatu yang tetap bertahan.
Bukan cahaya yang besar dan gemilang,
melainkan nyala kecil yang enggan padam.
Ia hadir dalam langkah yang terus bergerak,
meski kaki terasa berat.
Ia hidup dalam doa yang terus terucap,
meski jawaban belum datang.
Dari sanalah aku mengerti,
bahwa harapan tidak selalu berteriak.
Kadang ia hanya berbisik pelan:
"Bertahanlah sedikit lagi."
Dan ketika fajar akhirnya menyentuh cakrawala,
aku menemukan sesuatu yang selama ini kucari.
Bukan jalan yang sempurna,
melainkan keberanian untuk terus melangkah.
Sebab cahaya tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya menunggu di balik malam,
hingga hati siap melihatnya kembali.
— Ismy Ruheen
"Bahkan nyala yang paling kecil mampu menuntun seseorang melewati malam yang paling panjang."
Nook of Feeling, Room of Art
