BAB 2: Gema di Lembar Terakhir

Bab 2 novel DASTAAN oleh Ismy Ruheen. Lembar terakhir buku harian merah jambu, gema manis suara Khal, dan waktu yang berputar mundur ke masa lalu.

 

Seorang wanita membaca buku harian merah jambu di bawah pendar lampu meja kekuningan yang hangat di dekat jendela pada malam hari, menampilkan puisi perpisahan untuk novel DASTAAN.

"Aku hanyalah buku yang ditakdirkan untuk dibaca dan kemudian perlahan ditutup..."

BAGIAN I: SUNYI YANG TAK PERNAH BERSUARA
(PART I: The Silence That Never Spoke)

BAB 2: Gema di Lembar Terakhir

✦ ✦ ✦

Ruheen duduk membatu di meja kecil tepat di depan pintu kamar putrinya. Jam dinding baru saja melewati angka 02.00 pagi. Di bawah pendar lampu meja yang kekuningan, ia membuka lembaran terakhir dari buku harian merah jambu yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.

Matanya menatap baris-baris kalimat yang pernah ia tulis sebagai salam perpisahan untuk Khal. Kalimat-kalimat yang saat itu ia tulis dengan air mata, kini ia baca kembali dengan senyum yang berat—sebuah senyum pelepasan yang indah.

Maafkan aku…
Aku tak lagi sanggup berjalan di jalan ini bersamamu,
atau menepati janji yang pernah terucap.
Izinkan aku menyulam kisahku sendiri,
sebab tanganku gemetar membayangkan menarikmu ke dunia
yang hanyalah mimpi tanpa rupa.
Engkau bukan dia yang pernah kurindukan,
namun kebaikanmu telah menyentuhku begitu dalam.
Aku tak sanggup melukai hati sehalus milikmu.
Maafkan aku… maafkan aku… maafkan aku.
Aku hanyalah buku yang ditakdirkan untuk dibaca dan kemudian perlahan ditutup.
Terima kasih atas hadirmu, atas perjumpaan singkat ini.

Ruheen menarik napas panjang, dadanya terasa sesak namun lega secara bersamaan. Di telinganya, seolah-olah gema suara merdu itu kembali hadir, membisikkan sebuah kalimat dalam bahasa yang asing namun terasa akrab di jiwanya:

"Aapka naam kya hai?"

Mata Ruheen terpejam rapat. Ia membiarkan ingatan itu menyelimutinya seperti kabut yang hangat. Bayangan tawa yang menggantung dan tatapan Khal yang penuh hormat melintas di balik kelopak matanya. Ia menyadari bahwa rahasia ini terlalu besar untuk dipendam sendiri. Jika ia membawanya sampai mati, ia akan tersiksa oleh keindahan yang tak tersampaikan.

Jemari Ruheen meraih pena yang tergeletak di dekat bukunya. Dengan gerakan yang tegas namun anggun, ia membuka lembar baru yang masih putih bersih.

"Aku tidak bisa menyimpan rasa itu lagi," bisiknya pada keheningan malam. "Aku tidak bisa membawanya sampai mati... biarlah ia terbang bersama angin, melewati bukit-bukit yang akan menyaksikan setiap jeritannya."

Pena itu mulai menari. Tinta hitamnya mengalir, bukan lagi sebagai catatan harian biasa, melainkan sebagai awal dari kisahnya. Dan seiring dengan goresan penanya, dunia di sekitar Ruheen mulai memudar. Suara detak jam di rumahnya perlahan berubah menjadi bunyi ping notifikasi ponsel dari beberapa tahun yang lalu.

Waktu berputar mundur. Kembali ke masa di mana semuanya bermula. Ke masa di mana sebuah profil pria asing dari negeri seberang mendadak muncul di layar ponselnya.

✦ ✦ ✦

Nook of Feeling, Room of Art

Penulis Goshah-e-Ehsas