BAB 1: Gema yang Tersesat
Pintu kayu yang kokoh itu tak akan pernah bisa mengunci keluar bayangan yang kini mulai tumbuh menjadi keinginan yang tak terbendung...
BAB 1: Gema yang Tersesat
Ruheen membuka kelopak matanya dengan beban yang terasa tak wajar. Biasanya, alarm alami di batinnya selalu berdenting tepat pukul 03.30 pagi—saat dunia masih milik para pemimpi dan Tuhan. Namun pagi ini, kesadarannya terseret keluar dari kegelapan yang terlalu lelap. Dingin sisa hujan kemarin seolah masih memeluk tulang-tulangya.
Tatapan Ruheen membentur jam dinding. Jarum hitam itu menunjuk angka 06.00 dengan angkuh.
"Hah!"
Ruheen terlonjak. Selimut dilempar sekenanya. Langkah kakinya menghantam lantai dengan ritme cepat, sebuah koreografi kepanikan yang sudah mendarah daging. Ia meluncur ke dapur, jemarinya yang lincah memeriksa persediaan.
Klik. Suara pemantik kompor bergema pendek. Api biru menyambar dasar wajan, memanaskan sisa ikan semalam dalam gerakan yang efisien. Tanpa menunggu uap panas naik sepenuhnya, Ruheen sudah berputar balik, berlari menuju kamar dengan langkah yang diredam agar tak membangunkan seisi rumah. Ia mengguncang bahu suaminya—sebuah sentuhan rutin yang dibalas dengan gumaman tak jelas—lalu beralih ke kamar putrinya.
"Kak... ayo, sudah siang," bisik Ruheen, suaranya lembut namun mendesak.
Afzalunnisa hanya mengerang. Jemari kecilnya merangkai guling, memeluknya semakin erat seolah itu adalah benteng pertahanan terakhir melawan dunia luar. "Maa... hari ini kan tanggal merah..."
Ruheen mematung. Senyum kecil yang getir tersungging di birat bibirnya. Ia baru saja menyadari bahwa mesin waktu di kepalanya telah salah menghitung hari. Saat ia kembali ke kamarnya, sang suami sudah kembali tenggelam dalam mimpi. Ruheen menggeleng pelan, membiarkan kehangatan keluarga kecil itu tetap utuh dalam tidur mereka, sementara ia melangkah menuju kamar mandi untuk memulai ritualnya sendiri.
Air dingin membasuh wajahnya, namun saat jemarinya meraih handuk di dinding depan kamar mandi, gerakan Ruheen membeku. Tekstur kasar kain itu di kulit wajahnya mendadak memicu kilas balik yang tajam.
Duri pinus.
Sensasi tajam yang menusuk telapak tangannya kemarin sore seolah kembali terasa. Ia membawa handuk itu ke belakang rumah, menjemurnya di bawah langit pagi yang mulai beranjak. Di sana, di ambang pintu dapur, ia berbisik pada keheningan dengan penuh keheranan, "Kenapa bisa...?"
Pagi berganti dengan keriuhan yang akrab. Halaman rumah menjadi panggung kecil bagi keluarga mereka. Sang suami sibuk dengan bibit dan pasir, sementara Afzalunnisa dan si kecil Mahnur berlarian kecil membawa pot dan peralatan ringan. Ruheen keluar masuk rumah dengan gerakan yang presisi; tangannya menerima peralatan, kakinya berpindah dari teras ke tanah, tubuhnya berfungsi sempurna sebagai seorang ibu dan istri.
Namun, langit tak membiarkan kedamaian itu bertahan lama. Biru cerah di atas mereka mulai tergerus oleh jelaga kelabu yang merayap. Angin mulai menari dengan liar, membawa aroma tanah basah yang akrab.
"Ayah... Ayah! Lihat, langitnya berubah jadi malam!" celoteh Mahnur, jarinya menunjuk ke atas dengan antusiasme kanak-kanak.
"Sepertinya ini sudah memasuki musim hujan," sahut suaminya, mulai mengemas peralatan dengan gerakan yang tenang namun tangkas.
Di tengah obrolan ringan dan suara tawa anak-anak yang berhamburan masuk ke dalam rumah, Ruheen mendadak mematung di ambang pintu. Angin yang berembus kali ini tidak membawa dinginnya hujan Jawa Timur. Ia merasakannya lagi—sebuah embusan yang memiliki tekstur berbeda. Kering, tajam, dan membawa bisikan yang hanya bisa dimengerti oleh batinnya.
"Khyber..."
Di antara suara ceria dua malaikat kecilnya yang berhamburan masuk, bayangan Khal hadir tanpa izin. Sosok itu berdiri di sudut matanya, tidak nyata namun terasa lebih hidup daripada udara yang ia hirup.
Ruheen menyadari satu hal: angin ini tidak akan berhenti berbisik sampai ia memberikan sebuah wadah bagi rahasia itu.
Ruheen menatap punggung suaminya yang sedang mengunci pintu, menjauhkan dingin dari mereka. Namun, Ruheen tahu, pintu kayu yang kokoh itu tak akan pernah bisa mengunci keluar bayangan yang kini mulai tumbuh menjadi sebuah keinginan yang tak terbendung di benaknya: Membuka Gembok Khyber.
Nook of Feeling, Room of Art
